Cara Membuat Hiasan Kartu/Undangan dengan Menggunakan Sedotan

Hiasan undangan di samping terbuat dari sedotan sebagai bahan utama, sangat menarik dan elegan. Apakah anda ingin mencobanya?. Berikut ini ada beberapa langkah pembuatannya, silahkan disimak.

Langkah-Langkah :
1.
Bungkus sedotan dengan pita berperekat

2.
Pembungkusan dilakukan hingga bagian yang berfungsi sebagai tempat melengkung pada sedotan

3.
Gunting sedotan sesuai alur pita pembungkus

4.
Bagi dua hasil guntingan tersebut

5.
Buatlah lagi yang lainnya

6.
Guntinglah bagian sedotan yang tidak ditempeli pita (hati-hati jangan sampai terputus)
Lihatlah gambar

7.
Lengkungkan hasil potongan pada langkah 6 dengan menggunakan kuku

8.
Pasang hiasanan pada kartu/undangan

Potong sesuai ukuran kartu/undangan

SELAMAT MENCOBA

Cara membuat Bunga dari Sedotan

Hai..ketemu lagi, sekarang saya mau mengulas cara membuat Bunga dari Sedotan.
Ada 2 cara untuk membuat Bunga dari Sedotan:
1. Di susun bertumpuk, misalnya mawar, tulip, anggrek, bunga lili, bunga terompet dan bunga bunga kecil, contoh di web ini misalnya bunga sakura.
2. Di jahit dengan kawat, biasanya bunga-bunga sedang dan besar, misalnya krisan, teratai dll.

Oke, Saya mulai yah..
Pertama-tama untuk menentukan besarnya bunga yang akan di buat, maka sedotannya harus di gunting menjadi beberapa bagian, yang umum adalah: 1 sedotan dibagi menjadi: 3, 4, 5 (4,7 cm), 6 dan 8 bagian yang sama besar.

Pada waktu menggunting (kecuali menjadi 5 bagian), tidak usah di ukur, tapi di lipat saja lalu di gunting lalu di ratakan menjadi sama besar. Sebelum menggunting, sedotannya di pipihkan atau di gepeng kan dulu dengan gunting, caranya dengan menggesek kuat gunting ke sedotan dari ujung ke ujung (he..he..bahasaku ancur boo, bingung nulisnya..).
Gunanya supaya waktu melipatnya menjadi lebih mudah dan hasil guntingan lebih rapih.

Sedotan yang di gunting menjadi 3 bagian, tidak usah di ukur, tapi cukup di lipat saja menjadi 3 bagian yang sama besar lalu di gunting

cara melipat sedotan menjadi 3 bagian
Sedotan yang di gunting menjadi 4 bagian, dengan cara melipat 2 sedotan, lalu di gunting dan masing-masing potongannya di lipat lagi menjadi 2 bagian sama besar dan gunting lagi.

membagi sedotan menjadi 4 bagian

Jika ingin membagi sedotan menjadi 5 bagian, saya ukur memakai penggaris dan 1 potongannya di ukur kira-kira 4,7 cm panjangnya.

Sedotan yang di bagi menjadi 6 bagian, pertama-tama lipat 2 sedotan dan gunting menjadi 2 bagian yang sama besar, lalu masing-masing bagian di lipat menjadi 3 bagian dan di gunting lagi.

di bagi menjadi 6 bagian
Ada juga bunga yang sedotannya di bagi menjadi 8 bagian, di bagi dan digunting dengan cara yang sama seperti di atas.

Sisir sedotan tidak selalu harus di pakai, sebenarnya tidak ada tehnik khusus untuk memakai sisir sedotan, tapi biasanya hasil akhir setiap orang akan beda, tapi untuk mempergunakannya perlu latihan supaya hasilnya lebih baik,

kerajinan bunga dari sedotan

Kerajinan tangan ini merupakan peluang bisnis yang bagus sekali dan cocok untuk ibu rumah tangga yang ingin menambah penghasilan keluarga. Minat konsumen akan bunga sebagai hiasan di dalam ruangan memang cenderung meningkat. Para konsumen menginginkan ruangan mereka terlihat asri dan indah dengan memberikan hiasan rangkaian bunga pada setiap ruangan. Besarnya minat yang datang dari para konsumen pecinta bunga, mampu memberikan ide bagi para pelaku usaha untuk menciptakan peluang usaha bunga imitasi yang terbuat dari plastik.

Kreasi kerajinan tangan bunga plastik ini muncul ketika para konsumen mulai mengeluhkan biaya yang harus mereka keluarkan untuk membeli bunga asli yang hanya tahan untuk beberapa hari saja. Keindahan yang diberikan bunga asli memang tidak bisa tahan lama, maksimal hanya bisa bertahan sampai 1 minggu saja. Sejak itu, kini banyak muncul para penjual bunga yang menciptakan bunga plastik. Biasanya bahan yang sering digunakan adalah plastik, pita, plastik sedotan, hingga kertas.

Kualitas kreasi bunga plastik yang kini dipasarkan, memiliki bentuk yang sangat mirip dengan bunga aslinya. Sehingga bunga plastik diminati pula oleh para konsumen. Selain itu bentuknya yang mirip dengan aslinya, bunga plastik juga bisa bertahan lebih lama daripada bunga asli. Dan yang lebih menarik lagi, bunga plastik bisa dibersihkan jika mulai kotor. Hanya dengan merendamnya dengan deterjen, maka warnanya akan kembali cerah seperti baru lagi.

Kreasi bunga plastik juga bisa dirangkai, layaknya seperti rangkaian bunga asli. Dengan merangkai bunga plastik yang disertai dengan pot cantik, memberikan nilai jual yang lebih mahal disbanding bunga plastik yang tidak dirangkai. Jadi dengan kreasi bunga plastik kita dapat membuka dua peluang usaha sekaligus, usaha menjual bunga plastik eceran serta menjual rangkain bunga plastik yang cantik. Kreasi bunga plastik dapat dijadikan sebagai salah satu bisnis rumahan yang menjanjikan. Kini peluang sukses dengan bisnis rumahan pun sangat terbuka lebar.

Berikut kami berikan salah satu contoh cara pembuatan bunga plastik yang paling sederhana, cukup menggunakan sedotan plastik bekas yang ada di sekitar Anda.

Alat :
Gunting
Cutter
lem

Bahan :
Sedotan
lidi atau bisa diganti dengan kawat yang agak besar (diameternya sekitar 2 mm)
kertas krep atau dapat diganti dengan kertas pita
bekas botol plastic sebagai tambahan aksesoris

Cara Pembuatan :
Potong sedotan dengan panjang ± 10 cm
Setelah itu ujung sedotan dibelah menjadi empat, kita bisa mengesut sedotan yang telah dibelah sehingga berbentuk lebih mekar dan agak lemas.
Kemudian gunting tiap ujung sedotan yang telah dibesut, membentuk lancip menyerupai bentuk kelopak bunga asli
Beberapa sedotan tersebut kemudian digabungkan menjadi satu sehingga berbentuk bunga sedang mekar
Bunga ini kemudian kita ikatkan pada kawat atau lidi yang telah dibalut kertas krep
Sedangkan untuk daunnya bisa dibuat dari potongan kertas pita atau dari potongan bekas gelas plastic
Setelah satu tangkai bunga telah jadi, buat tangkai – tangkai berikutnya dengan cara yang sama. Dan untuk yang terakhir rangkailah tangkai bunga tersebut ke dalam pot bunga yang telah diisi spoon/ busa.

Cara membuat kerajinan tangan dari barang botol bekas Read more: http://all-cyber.blogspot.com/2012/06/cara-membuat-kerajinan-tangan-dari_01.html#ixzz1zBMGrhk4

BAGi anak ini sangat menyenangkan bermain dan melatih kreatifitas dalam memanfaatkan barang Bekas Botol Dirumah, ajaklah anda anda dalam membuat kotak pencil dengan Botol bekas, bagi mereka ini suatuhal baru yang menyenangkan, nahh berikut adalah caranya menggunakan bekas botol plastik atau gulungan tisu.

Sebelumnya saya juga menuliskan tentang cara membuat kerajinan tangan sederhana

Bahan-bahan lain: kerajinan tangan dari botol bekas

1) Lem kayu
2) Manik-manik atau pasir putih
3) Gunting
4) Hiasan tambahan seperti daun kering, biji-bijian, atau kertas berwarna-warni.

Cara membuat:

1. Potong botol plastik menggunakan gunting sesuai bentuk yang diinginkan. Untuk gulungan tisu, tutup salah satu sisinya yang berlubang dengan karton.
2. Olesi seluruh permukaannya dengan lem. Tempelkan pasir atau manik-manik di permukaannya.
3. Tambahkan hiasan seperti guntingan kertas, daun, biji-bijian, atau bunga kering. Wadah ini bisa dipakai sebagai tempat pensil atau vas.
Cara membuat kerajinan tangan dari barang botol bekas

Read more: http://all-cyber.blogspot.com/2012/06/cara-membuat-kerajinan-tangan-dari_01.html#ixzz1zBMNLzF0

Tips Cara Membuat Keluarga Yang Harmonis, Bahagia Lahir Batin & Tahan Banting

Pria dan wanita yang sudah menikah wajib menjaga keharmonisan dan keutuhan rumah tangga dengan cara yang baik tanpa kekerasan. Oleh sebab itu dari awal memilih pasangan hidup jangan asal pilih saja karena semua itu akan menentukan kondisi rumah tangga kita kelak. Memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia adalah impian semua orang.

Berikut di bawah ini adalah beberapa trik untuk membuat keluarga dan rumah tangga yang bahagia dengan pasangan kita suami atau isteri sayang dan cinta kepada kita :

1. Jujur Apa Adanya dan Terbuka Pada Keluarga
2. Ciptakan Kondisi Yang Menyenangkan
3. Tidak Emosi dan Banyak Menuntut
4. Mengutamakan Kebersamaan Keluarga
5. Membuat Komitmen Jangka Panjang
6. Bijak dan Tegas Dalam Menghadapi Masalah
7. Keluarga Yang Soleh dan Memegang Teguh Agama
8. Perhatian Penuh Ke Anak dan Masa Depannya
9. Hidup Sederhana dan Tidak Mengejar Harga Semata
10. Peka Pada Lingkungan Sekitar dan Hidup Bersosial
11. Tidak Membawa Masalah Kantor Ke Rumah
12. Membiasakan Gaya Hidup Sehat Pada Keluarga
13. Saling Membantu dan Tolong Menolong
14. Tidak Otoriter dan Mengutamakan Musyawarah
15. Memilih Lokasi Tempat Tinggal Yang Baik
16. Menjalin Ikatan Silaturahmi Keluarga Dengan Baik
Semoga tips singkat ini memberikan manfaat bagi kita semua.

Kewajiban Seorang Suami

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا .الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan Menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir (atas nikmat-nikmat Allah) siksa yang menghinakan.” (Qur’an surah An Nisa’ ayat 36-37).

Suami adalah seorang lelaki sekaligus kepala keluarga. Berbicara tentang keluarga paling tidak sebuah keluarga terdiri dari seorang kepala keluarga yakni seorang suami dan seorang isteri. Bisa jadi sebuah keluarga ditambah dengan beberapa orang anak. Inilah yang masyhur dalam benak setiap orang ketika dia mendengar kata ‘keluarga’ disebutkan orang kepadanya. Dengan demikian, tertanamlah dalam benak setiap orang bahwa keluarga adalah suami, isteri, dan anak. Demikianlah lazimnya selama ini.

Benarkah keluarga hanya terdiri dari tiga anggota seperti yang disebutkan diatas? Dalam Islam, yang disebut keluarga lebih lebar dari itu. Ayah dan ibu sang suami termasuk di dalamnya, bahkan memperoleh porsi yang lebih utama dan lebih luas. Hal ini sering terabaikan bahkan terlupakan sama sekali akibat persepsi yang salah tentang arti keluarga selama ini. Sehingga seorang suami hanya merasa berkewajiban menghidupi isteri dan anak-anaknya saja. Ketika keperluan pokok bagi isteri dan anak telah terpenuhi, sang suami mulai menumpuk harta sebagai investasi masa depan bagi isteri dan anak-anaknya. Sedangkan kedua orangtua kalaupun disantuni hanya terbatas pada saat-saat tertentu seperti saat lebaran tiba dua kali dalam setahun. Tragis, bukan..?

Sebenarnya bagi seorang suami kedua orang tua jauh lebih wajib dan mesti didahulukan daripada isteri dan anak kandung. Hal ini tergambar dalam hadis Nabi yang berbunyi: “Ridha Allah tergantung kepada ridha orang tua.” Artinya setinggi dan sebanyak apapun amal seorang lelaki terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala, akan menjadi rusak binasa jika orang itu menyia-nyiakan orangtuanya, yang menyebabkan dia tercatat sebagai anak durhaka.

Isteri dan anak memang wajib dinafkahi oleh seorang suami, namun ibu dan bapaknya lebih wajib dinafkahi. Sebuah hadis Nabi secara nyata menjelaskan hal ini. Hadis itu berbunyi, “Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata dia, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulallah, siapakah orang yang paling besar haknya atas seorang wanita? Beliau menjawab: “Suami wanita itu.” Aku bertanya lagi: “Siapakah yang paling besar haknya atas seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab: “Ibu laki-laki itu.” (Hadis Riwayat Imam Hakim, dalam kitab Al Mustadrak jilid 4 halaman 150).

Jelas sekali seorang laki-laki yang telah menjadi seorang suami lebih wajib menyelesaikan urusan keperluan sang ibu baru lelaki itu berkewajiban menyelesaikan urusan sang isteri. Tentu saja tidak berarti karena mengurus sang ibu, lelaki itu lantas menyia-nyiakan isterinya. Masing-masing memiliki hak yang wajib ditunaikan secara ma’ruf (baik). Dalam hadis yang lain, seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah yang paling berhak memperoleh pelayanan dariku?” Rasulullah menjawab, “Ibumu..Ibumu…kemudian Ibumu, kemudian bapakmu, kemudian yang lebih dekat kepadamu (isteri dan anak), kemudian yang lebih dekat kepadamu (kaum kerabat).” (Hadis Riwayat Bukhari Muslim)

Demikian mulianya Islam meletakkan tanggung jawab kepada seorang suami. Hak-hak mereka secara rapi dan berurutan telah dijelaskan oleh Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadis-hadisnya yang mulia. Jika diurutkan kewajiban seorang suami dalam Islam adalah sebagai berikut; 1. Mengurus ibu, 2. Mengurus bapak, 3. Mengurus Isteri dan anak, 4. Mengurus kerabat. Subhanallah…

Karena ketidaktahuan kaum muslimin atas ajaran Islam, kadang-kadang seorang isteri merasa kedua mertuanya (orangtua sang suami) adalah saingannya dalam memperebutkan pelayanan dan harta serta kasih sayang dari sang suami. Kemudian karena ketamakan yang tumbuh di hati sang isteri tersebut, dia akan meradang jika kedua mertuanya bertindak sedikit saja mengambil harta suaminya. Seolah-olah kedua mertuanya ‘merampas’ sesuatu yang semestinya menjadi bagian dan miliknya sendiri. Padahal jika sekedar makan dan pakaian tidaklah perlu menjadi perhitungan bagi sang isteri itu.

Nabi bersabda dalam sebuah hadisnya, “Ibu dan bapak berhak memakan sesuatu dari harta milik anak mereka dengan cara yang baik. Seorang anak tidak boleh memakan sesuatu dari harta ibu bapaknya, kecuali dengan izin keduanya.” (Hadis Riwayat Imam Ad Dailami). Artinya, sebagai ilustrasi, jika suatu hari secara ‘iseng-iseng’ seorang ibu atau bapak datang ke rumah anak lelakinya yang sudah berkeluarga, kemudian mereka mendapati ada makanan lezat terhidang di meja makan rumah anaknya itu. Kedua orangtua ini berhak menikmati sebagian dari makanan itu tanpa meminta izin kepada anak lelaki dan menantu wanitanya. Andaikata pun ini terjadi, tidaklah mesti sang isteri merasa tersinggung atau merasa dilecehkan oleh mertuanya itu.

Dalam hadis yang lain, Rasulullah bersabda kepada seorang lelaki: “Kamu dan hartamu adalah milik bapakmu!” (Hadis Riwayat Abu Dawud, dan Imam Syafi’i). Dalam hadis yang lain juga, Rasul bersabda, “Janganlah kamu mengabaikan orangtuamu. Barangsiapa mengabaikan orangtuanya, maka orang itu telah kufur (yakni berdosa besar).” (Hadis Riwayat Muslim). Kelak jika ternyata suami wafat lebih dahulu dari isteri dan ibu-bapaknya, maka Islam memberikan hak 1/8 bagian dari seluruh harta sang suami itu sebagai warisan untuk isterinya. Adapun ibu dan bapak sang suami mendapatkan bagian warisan sebesar 1/6 dari harta peninggalan anak lelakinya itu. Bandingkan, ternyata bagian kedua ibu-bapak lebih besar daripada bagian sang isteri.

Betapa besarnya hak orangtua terhadap seorang anak lelakinya meskipun anaknya tersebut telah menjadi seorang kepala keluarga. Benar, menafkahi isteri dan anak merupakan kewajiban seorang suami dalam Islam, namun kewajiban itu tidak mesti menghilangkan kewajiban sang suami terhadap kedua orangtuanya. Bagaimanapun, keduanya dapat berjalan beriringan tanpa mesti satu dan lainnya dipertentangkan. Kedua orangtua diurus secara baik dan akan menjadikannya sebagai sebuah amal yang mulia di dunia serta menjadi ‘tiket’ untuk masuk ke surga Allah di akhirat kelak. Sementara isteri dan anak juga merupakan lumbung pahala bagi seorang suami. Apalagi Rasul telah berjanji bahwa seorang suami yang bersedekah kepada anak dan isterinya, akan mendapatkan pahala dua kali lipat lebih besar jika dibandingkan dengan sedekahnya kepada fakir miskin.

Jika setiap suami menyadari bahwa menafkahi kedua orangtuanya merupakan ‘tiket’ untuk masuk surga, pastilah lelaki itu akan bersusah payah mendapatkan ‘tiket’ surga itu. Hatinya akan senang riang dan gembira untuk mengeluarkan sebagian dari harta miliknya, kepada kedua orangtuanya. Sebaliknya, sang isteri jika benar mencintai suaminya dengan tulus pastilah isteri tersebut akan sangat gembira pula melihat suaminya membeli ‘tiket’ ke surga. Mustahil seorang isteri mengatakan cinta kepada suaminya tetapi dalam kehidupan sehari-hari sang isteri secara mati-matian mencoba menghalangi sang suami yang hendak membeli ‘tiket’ ke surga. Dalam hal ini, berupa pelayanan kepada ibu-bapaknya.

Dan jika suami-isteri telah menyadari bahwa menyantuni orangtua, merawat serta menafkahi mereka adalah kewajiban dari Allah dan sekaligus tiket masuk surga, manalah mungkin keduanya sampai hati ‘bermain kucing-kucingan’ berusaha menyembunyikan hartanya dari kedua orangtua mereka agar kedua orangtua mereka itu tidak punya kesempatan meminta harta mereka. Menyembunyikan harta dari kedua orangtua, atau dalam istilah yang popular sekarang ini ‘berpura-pura miskin’ adalah sebuah tindakan bodoh dan dimurkai Allah. Bodoh karena membakar tiket ke surga; dimurkai Allah karena sebuah tindakan kufur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah melalui kedua orangtuanya. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “…Menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka…” (surah An Nisa’ ayat 37).

Wallahu a’lam bishshowab

Menjaga Moral Bangsa

Suatu hari, di akhir tahun 70-an seorang ibu menggandeng anak gadisnya melangkah masuk ke dalam sebuah bioskop paling elite di kota Medan. Tepat di sebelah dalam, dua orang penjaga pintu bioskop itu, menahan mereka masuk karena curiga bahwa sang anak belum berusia 17 tahun, sesuai dengan batas usia film yang sedang diputar di situ. Terjadilah pertengkaran antara sang ibu yang memaksa ingin masuk, dengan kedua orang penjaga pintu tersebut. Di akhir pertengkaran, sang ibu diminta menunjukkan KTP si anak gadis, dan dia gagal melakukannya. Akhirnya ibu dan anak yang bersekongkol ingin menabrak aturan batas usia menonton film 17 tahun itu pun pulang sambil marah-marah.

Betapa terharunya kita melihat dua orang penjaga pintu bioskop saat itu yang sedemikian kental rasa tanggung jawabnya untuk menjaga moral anak bangsanya. Padahal mereka justru makan gaji dari hasil penjualan karcis. Sedangkan kedua penjaga pintu bioskop itu bukanlah berpendidikan tinggi.

Di akhir tahun 60-an, Pemerintah Orde Lama pernah melarang sebuah lagu yang menceritakan seekor rusa jantan bunuh diri terjun ke jurang, setelah aksi protes yang dilakukan para ulama seluruh Indonesia.Isi syair lagu itu dikhawatirkan memicu remaja putus cinta melakukan bunuh diri. Sebelum itu Pemerintah Orde Lama juga telah memberangus seluruh lagu yang berbau imperialisme asing, karena khawatir dapat melunturkan semangat nasionalisme anak bangsanya.

Pada tahun 80-an, menteri Penerangan Orde Baru, H. Harmoko, pernah menarik dari peredaran sebuah lagu yang syairnya bercerita tentang seorang istri yang kerap ditampar oleh suaminya. Padahal lagu tersebut menempati tangga pertama lagu terpopuler di tanah air. Di akhir masa jabatannya, beliau juga pernah menarik dari peredaran sebuah lagu paling populer lainnya, yang isi syairnya mengajak orang untuk untuk melakukan kawin-kawinan alias tidak nikah secara tidak sah.

Di mata mereka yang mendewa-dewakan hak asasi secara tanpa batas, semua tindakan di atas dianggap sebagai pelanggaran HAM. Di sisi lain, tidakkah terpandang sebuah niat tulus manusia-manusia di zaman itu yang masih memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga moral anak bangsanya. Terbukti saat itu mereka yang resah atas kerusakan moral merata dari mulai atas, pihak pemerintahan resmi Negara, sampai penjaga pintu bioskop sekalipun.

Keadaan sekarang ternyata bertolak belakang. Merebaknya kasus pornografi dengan segala akibatnya di tanah air yang penduduknya mengaku umat beragama ini, hampir tidak mendapat tanggapan yang berarti sama sekali. Suara-suara yang ingin melindungi moral anak bangsa nyaris tidak terdengar. Tayangan tv dan media massa lain yang cenderung menampilkan artis wanita yang hanya melilitkan selembar kain minim ditubuhnya, sampai bebas beredarnya film-film porno secara meluas di masyarakat, hampir tidak mendapat rintangan yang berarti pula. Padahal sekarang undang-undang Pornografi telah disahkan. Namun, undang-undang itu mandul, karena Peraturan Pemerintah tentang undang-undang Pornografi sudah beberapa tahun tidak kunjung diterbitkan. Pemerintah dinilai telah melalaikan tanggung jawab menjaga moral anak bangsa. Atau apakah kita tidak lagi menganggap pornografi sebagai perusak moral bangsa? Takutnya kita sekarang justru sudah menjadi bangsa penikmat pornografi sebagai santapan hidup sehari-hari.

Wallahu a’lam

Tulisan untuk kolom “Hikmah”, Harian Umum Republika dan telah diterbitkan di Republika versi cetak pada tanggal 16 Mei 2011