Multikulturalisme dalam Buku Teks Pendidikan Agama Islam

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Hal ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Populasi penduduknya lebih dari 200 juta jiwa, terdiri dari 300 suku yang menggunakan hampir 200 bahasa yang berbeda. Selain itu mereka juga menganut agama dan kepercayaan yang beragam seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghuju serta berbagai aliran kepercayaan lainnya. Istilah multikultural merupakan fenomena global yang syarat dengan berbagai konflik. Hal itu disebabkan karena perbedaan suku, tingkat sosial, bahasa pengelompokan politik dan agama etnosentrisme, resisme, integrasi dan konflik. Istilah multikulturalisme mengandung dua pengertian yang sangat kompleks, yaitu “multi” yang berarti jamak atau plural, dan “kultur” berisi pengertian kultur atau budaya.
Pada awalnya orientasi pendidikan agama Islam lebih fokus pada persoalan ukhrawiyah, dan nyaris lepas dari aspek duniawiyah. Karena itu sistem pendidikan Islam di Indonesia sangat didominasi oleh warna-warna fikih, tasawuf, ritual dan sebagainya. Sehingga perbedaan-perbedaan kultural yang ada pada siswa seperti perbedaan etnis, agama, bahasa, gender, klas sosial, ras, kemampuan, dan umur dalam proses belajar menjadi tidak efektif. Menurut James A. Banks, Pendidikan multikultural arahnya mengeksplorasi berbagai perbedaan dan keragaman di atas dapat diaplikasikan pada semua jenis mata pelajaran dengan cara melakukan perubahan perilaku secara bertahap yakni menerapkan penekanan materi pembelajaran seperti aspek moralitas, disiplin, kepedulian humanistik, kejujuran etika, maupun kehidupan yang empatik. Sekaligus juga untuk melatih dan membangun karakter siswa agar mampu bersikap demokratis, humanis dan pluralis dengan membangun pemahaman keagamaan yang lebih pluralis dan inklusif dalam lingkungan mereka.

B. Permasalahan
Formulasi permasalahan yang dijawab pada penelitian ini adalah sampai sejauhmana muatan nilai-nilai multikulturalisme bagi dunia remaja kondusif terimplementasi dalam buku teks PAI di SMA. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk membuktikan berbagai pandangan, teori dan landasan filosofis yang mendasari konsep terintegrasinya nilai-nilai multikulturalisme dalam buku teks PAI SMA.

C. Metodologi Penelitian
Penulis membaca data yang terdiri dari muatan nilai-nilai multikulturalisme yang telah diidentifikasi dari buku teks PAI di SMA dalam bentuk rumusan kalimat, atau ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist serta tampilan gambar yang diinterpretasi dengan melalui sebuah penjelasan yang lain dengan karangka pikir induktif dan komparatif. Kemudian data tersebut juga dibaca dengan menggunakan teknik analisis dokumen, tepatnya analisis isi (content anlysis), Dalam hal ini content anlysis diletakkan sebagai cara untuk menganalisis makna yang belum tergambar jelas dalam buku teks PAI untuk membuktikan terimplementasi muatan nilai-nilai multikulturalisme tersebut.

BAB II
MULTIKULTURALISME DAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Multikulturalisme sebenarnya merupakan sebuah konsep dimana sebuah komunitas dalam konteks kebangsaan dapat mengakui keberagaman, perbedaan dan kemajemukan budaya, baik ras, suku (etnis), dan agama yang memberikan perhatian terhadap kelompok minoritas. Selama ini, konsep tentang kebenaran hanya didasarkan pada paham keagamaan. Multikulturalisme menjadi sebuah alternatif untuk melihat identitas sebuah komunitas bukan dari latar keagamaannya saja, melainkan dari latar belakang kebudayaannya. Abd. Rahman Assegaf berpendapat menghargai perbedaan berarti siap untuk menerima kehadiran orang lain di tengah kehidupan kita secara kolektif (learnig to live togather). Menurut Conrad P.Kottak, kultur merupakan sesuatu yang general dan spesifik, secara general setiap manusia mempunyai kultur, dan spesifik berarti setiap kultur dalam kelompok masyarakat adalah bervariasi antara satu dengan yang lainnya. Misalnya orang Jawa Tengah dan Jawa Timur meski dalam satu suku “Jawa” tapi punya kultur beda, bahasa dan budaya lokal dan mereka hidup dalam kultur mereka masing-masing.
Pendidikan multikultural pada dasarnya adalah suatu cara untuk mengajarkan keragaman (teaching diversity). Pendidikan multikultural menghendaki rasionalisasi etis, intelektual, sosial dan pragmatis secara inter-relatif: yaitu mengajarkan ideal-ideal inklusivisme, pluralisme, dan saling menghargai semua orang. James A. Banks yakin bahwa pendidikan seharusnya lebih mengarah pada mengajari mereka bagaimana berpikir daripada apa yang dipikirkan. Siswa perlu disadarkan bahwa di dalam pengetahuan yang dia terima itu terdapat beraneka ragam interpretasi sesuai kepentingan masing-masing.
Multikulturalisme dalam sejarah Islam mempunyai arti penting, paham ini secara nyata telah menghidupkan kembali sebuah kaidah lama digunakan oleh para ulama fikih yaitu sesuatu yang dinilai benar oleh adat, maka juga dibenarkan oleh teks (al-ta’yîn bi al-‘urfka al-ta’yîn bi al-nashsh). Namun, selama ini agama terlalu didekati secara dogmatis, tekstual-formalistik, ritualistik,dan simbolik ketimbang maknanya. Agama berhenti pada tataran ritual dan intellectual. Pada dasarnya dalam sejarah Islam terdapat ajaran bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat, hal ini mendorong munculnya berbagai penafsiran terhadap ajaran Islam. Pendidikan agama sarat dengan beban muatan normatif dan muatan historis-empiris, pendidikan agama yang ditawarkan oleh kurikulum, silabus, literatur, dan para pengajarnya di lapangan dalam era kemajemukan ada baiknya dikaji ulang hal ini untuk mencari sumber/akar dari konflik dan sejauh mana historisitas praktik pendidikan agama di Indonesia sejak awal penyusunan kurikulum, silabus, guru, dosen, metode mengajar, pilihan buku wajib dan literatur yang digunakan.
Menurut Nikmah Rahmawati, sistem pendidikan, sumberdaya manusia, kurikulum, adalah sesuatu yang perlu dibenahi jika kita ingin merealisasikan pendidikan multikultural dengan menghapus praktek monopoli dalam pendidikan (termasuk pendidikan Islam). Dalam kaitan ini keberadaan pendidikan Islam yang seolah-olah ‘kurang terlibat’ dalam menjawab berbagai masalah yang aktual, pendidikan agama terkesan hanya digunakan sebagai legitimasi terhadap kesalehan individual (identity) dan tidak diwujudkan dalam kesalehan sosial sebagai way of life. Situasi yang sama dalam pendidikan agama termasuk agama Islam, yakni ketertutupan serta kefanatikan madzhab menjadi benteng untuk berlindung dari sistem dan model keyakinan dan ritual masyrakat yang berbeda (multikultur).
BAB III
ORIENTASI MULTIKULTURAL DALAM BUKU TEKS PAI
Bab-3 ini penulis menggali wacana pendidikan multikultural dalam konteks agama Islam, melalui pengembangan aspek yang dipelajari dalam buku teks PAI di SMA. Orientasi pendidikan multikutural sendiri adalah “memanusiakan kemanusiaan manusia”. Kemanusiaan manusia pada dasarnya adalah pengakuan atas pluralitas, heterogenitas, dan keragaman manusia itu sendiri. pendidikan multikultural tidak mentolelir adanya ketimpangan kurikulum. Artinya pendidikan multikultural menghargai adanya perbedaan filosofi keilmuan. Ilmu-ilmu yang berbeda bukan untuk dikonfrontasikan apalagi saling menjegal dan merasa paling benar, melainkan saling melengkapi dan menunjang. Sifat holistik ajaran Islam memiliki imflikasi prasktis terhadap tujuan, kurikulum, metode dan sistem evaluasi dalam pendidikan Islam. Dengan sifat holistik ini, tujuan pendidikan meliputi kepentingan hubungan dengan manusia, alam dan Tuhan sekaligus.
Menurut Muhammad Zuhdi, salah satu persoalan penting sekarang adalah isu mengenai pendidikan agama didalam kelas, Pengenalan berbagai macam agama didalam kelas telah menjadi bagian dari kurikulum sekolah sejak lama. Sayangnya perbedaan ini disajikan hanya sebagai budaya bukan sebagai keyakinan. Hal ini menimbulkan kesulitan bagi siswa untuk memahami dan menghormati keyakinan agama lain.
Ajaran Islam yang sangat mulia terkait dengan multikulturalisme adalah persaudaraan (al-ukhuwah). Menurut Munzir Suparta, Seiring berjalan waktu konsep persaudaraan (brotherhood) yang digulirkan Rasulullah mengalami distorsi makna yang mendalam. Persaudaraan hanya diartikan hanya dengan menjalin persaudaraan sesama Islam, non-Islam dianggap diluar relasi persaudaraaan. Bahkan lebih ekstrim lagi persaudaraan hanya untuk orang yang se-aliran dan se-paham. Secara umum sebaran materi tentang persaudaraan/nilai kemanusiaan dalam buku teks pendidikan agama Islam seperti yang termuat dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Menengah Atas (SMA) dapat dilihat dalam pokok bahasan yang disajikan. Husnuzhan terhadap sesama manusia suatu isu multikulturalisme yang menyangkut nilai dasar manusia dalam menjalin persaudaraan dan pergaulan antara sesama umat beragama, hal tersebut juga termasuk dalam sejarah dakwah Rasulullah dalam periode Mekah, baik secara substansi maupun strateginya.
Keberagaman dan pluralisme di negeri ini merupakan realitas empirik yang tidak terbantahkan. Oleh sebab itu, keberagaman harus dipandang sebagai sebuah rahmat dan potensi positif untuk mengembangkan bangsa dan negara, dan bukan sebaliknya. Dalam buku teks Pendidikan Agama Islam din Sekolah Menengah Atas (SMA) sebaran materi tentang pluralisme ini dapat dilihat dalam pokok bahasan mengenai Kebebasan beragama dalam Al-Qur’an Surah Al-Kahfi, 18: 29, dalam hal ini pembahasannya diangkat juga tentang tidak adanya toleransi dalam hal keimanan dan peribahan yang tercermin juga dalam Al-Qur’an Surah Al-Kafirun, 109: 1-6. Dengan demikian, sangat jelas bahwa ketunggalan dalam beragama dan berkeyakinan tidaklah dikehendaki Tuhan. Pada ayat lain yang sangat populer antara lain disebutkan ”Tidak ada paksaan dalam memasuki agama”. Berdasarkan ayat tersebut dapat dipahami bahwa disamping tidak boleh ada paksaan bagi seseorang untuk memeluk suatu agama atau pindah agama, orang juga dibebaskan apabila memilih tidak beragama. Karena jalan yang benar dan jalan yang salah sudah dibentangkan Tuhan. Terserah kepada setiap orang untuk memilih antara dua jalan tersebut, tentu dengan segala konsekuensinya.
Dalam menanggapi keberbedaan dan keragaman budaya, suku, bangsa, bahasa, agama dan sebagainya. Islam menawarkan sebuah konsepsi berupa toleransi. Konsep ta’aruf harus direalisasikan dalam kehidupan nyata. Salah satunya dengan mengembangkan sikap toleransi antar sesama, saling menghargai dan menghormati. Tema tentang toleransi terdapat juga dalam pokok bahasan mengenai Kebebasan beragama dalam Al-Qur’an Surah Al-Kahfi, 18: 29, tentang tidak adanya toleransi dalam hal keimanan dan peribadahan, dalam Surah Al-Kafirun, 109:1-6, dan tentang sikap terhadap orang yang berbeda pendapat dalam Al-Qur’an Surah Yunus: 10:40-41. Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang bisa ditunjuk sebagai bukti pengakuan terhadap agama-agama lain. Seperti pengakuan terhadap eksistensi dan kebenaran kitab-kitab sebelum Islam. Taurat dan Injil misalnya. Ini dapat dilihat pada Qur’an Surah al-Mâidah (5): 44. Pembahasan tentang ini dalam Materi PAI di SMA dapat dilihat dalam pokok bahasan tentang Iman Kepada Kitab-kitab Allah.
Perspektif teologi Islam tentang kerukunan hidup antar agama dan konsekuensinya, antar umat beragama berkaitan erat dengan doktrin Islam tentang hubungan antara sesama manusia dan hubungan antara Islam dengan agama lain, Islam mengakui hak hidup agama-agama lain, dan membenarkan para pemeluk agama lain tersebut untuk menjalankan ajaran-ajaran agama masing-masing. Disinilah letak dasar ajaran Islam mengenai toleransi beragama. Salah satu keunikan dalam Islam adalah menjadikan kepercayaan pada kebenaran agama lain sebagai syarat yang perlu bagi keimanan agamanya sendiri. Menurut Glasse, kenyataan bahwa sebuah wahyu (Islam) menyebut (wahyu-wahyu) lain sebagai absah merupakan peristiwa luar biasa dalam sejarah agama-agama.
Sejarah perkembangan ilmu fiqih sebagai jalan keluar dari permasalahan yang berkembang di kalangan umat dari zaman ke zaman yang senantiasa meminta etika dan paradigma baru, Sejauh yang kita amati fiqih klasik cenderung mengedepankan sudut pandang antagonistik bahkan penolakan terhadap komunitas agama lain. Banyak konsep fiqih menempatkan penganut agama lain lebih rendah ketimbang umat Islam, hingga berimplikasi mendiskreditkan. Sejumlah kitab fiqih yang diajarkan baik dipesantren maupun sekolah keagamaan, pada umumnya hanya membacakan kembali kitab-kitab fiqih yang ditulis para ulama beberapa abad yang silam. Mereka hanya mereproduksi pandangan-pandangan fiqih klasik, dan tidak memproduksi pandangan alternatif yang relevan dengan kontek kekinian. Dalam buku teks PAI terlalu minim sekali perdebatan ulama atau Imam Mujtahid (terutama Imam empat Mazhab seperti Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali).
Penerapan pendidikan yang multikultural sesungguhnya dapat dijumpai contohnya pada apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW sewaktu tampil sebagai pemimpin agama dan pemimpin negara di Madinah. Sejarah mencatat, bahwa masyarakat madinah adalah masyarakat yang memiliki latar belakang agama, suku, budaya, dan sebagainya yang amat heterogen dan relevan untuk dijadikan sebagai contoh pelaksanaan konsep masyarakat madani serta penerapan asas pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural pada masa kejayaan Islam, ketika al-Ma’mûn menjadi khalifah (813-833 M) dari bani Abbas di Bayt al-Hikmah, Bayt al-Hikmah sendiri merupakan institusi pendidikan tinggi Islam pertama yang dibangun pada tahun 830 M oleh khalifah al-Ma’mûn. Institusi ini telah menjadikan peradaban baru dimana bangsa Barat belum mengenal apa yang disebut konsep pendidikan multikultural dalam pendidikan. Konsep demokrasi dan pluralitas bagitu nyata dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam kegiatan pendidikan.

BAB IV
NILAI-NILAI MULTIKULTURALISME DALAM BUKU TEKS PAI
Pembahasan bab ke-4 ini akan menguraikan teraplikasikannya nilai-nilai multikulturalisme dalam materi pembelajaran yang terdapat dalam buku teks Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA. Penulis akan membaca kembali Isu-isu multikultural dalam buku teks dengan konsep pemikiran multikulturalisme Barat yang telah penulis cantumkan pada bab ke-2. Tujuan pembahasan bab ini adalah untuk mengungkap konsep multikulturalisme dalam karangka buku teks Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA; membuktikan termuatnya konsep nilai-nilai multikultural dalam karangka buku teks, dengan mengidentifikasi kata, dan kalimat-kalimat, serta paragraf, atau tampilan gambar yang dipelajari dari materi yang terdapat dalam buku teks tersebut dengan cara mengeksplorasi, membandingkan, menyandingkannya dengan konsep multikultural.
Penyajian materi pembelajaran agama Islam di Sekolah Menengah Atas (SMA) sedikit berbeda dengan materi yang di pelajari di Sekolah Madrasah Aliyah (MA). Pada Madrasah Aliyah materi Pendidikan Agama Islam (PAI) diberikan secara terpisah dengan buku teks yang terpisah pula, sedangkan pelajaran PAI di Sekolah Menengah Atas (SMA) dipelajari secara secara global dengan materi yang simpel dan terintegrasi (disatukan), ini dapat terlihat dari bentuk materi seperti Al-Qur’an-Hadits, Fiqih, Akidah, Akhlak, serta Tarikh dan Kebudayaan Islam yang dipelajari terintegrasi dalam satu buku teks Pendidikan Agama Islam.
Pembahasan mengenai Materi PAI dalam lingkup multikulturalisme, sejauhmana kajian tentang multikulturalisme terdapat dalam pokok bahasan yang dipelajari dalam materi Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA mulai dari kelas X (sepuluh) sampai kelas XII (duabelas), seperti penulis analisa dalam sub bab sebelumnya bahwa pelajaran PAI di SMA terakumulasi dalam berbagai aspek materi yang terintegrasi dan tidak terpisah, sehingga pembahasannya cukup global. Dalam berbagai aspek materi tersebut diantaranya;
A. Aspek Al-Qur’an.
ada beberapa ayat yang dikaji sangat berkaitan diantaranya; Pertama, ayat Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 159 ini tentang demokrasi, konteks ayat ini adalah diskusi merupakan bentuk musyawarah. Bermusyawarah untuk mengambil keputusan atas suatu masalah merupakan sikap terpuji dalam Islam, musyawarah harus diawali dengan niat yang baik, yaitu untuk mencapai mufakat atas suatu permasalahan dan hasilnya pun harus dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah Swt. Isi kandungan Surah Ali-Imran ayat 159 ini; Allah memuji sifat yang ada dalam diri Rasulullah SAW, yaitu lemah lembut, pemaaf, bijaksana, dan suka bermusyawarah ( وَشَاوِرْهُمْ ) untuk menyelesaikan suatu permasalahan.
Ayat tersebut meskipun ditujukan kepada Rasulullah SAW, namun berlaku pula untuk setiap muslim ketika bermusyawarah, yaitu; bersikap lemah lembut, sopan, tidak keras kepala, tidak menang sendiri, bersikap lapang dada, pemaaf, dan menghargai pendapat orang lain. Dalam ayat tersebut juga menganjurkan bahwa setelah mendapat persetujuan dari hasil musyawarah, hasilnya diserahkan kepada Allah dalam bentuk tawakal. Musyawarah yang dibenarkan dalam Islam adalah musyawarah yang sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya dan bukan yang mengandung maksiat dan dosa. Hal ini karena tidak selamanya musyawarah yang dilakukan manusia itu benar, apalagi bila dilandasi oleh hawa nafsu.
Dua konteks ayat di atas yang intinya adalah musyawarah dalam mengambil sebuah keputusan, bahwa dialog agama tidak hanya bertumpu pada pemecahan problem keberagamaan, melainkan juga diarahkan pada bagaimana agar dialog tersebut memberi kontribusi signifikan bagi proses demokratisasi, untuk tujuan itu, para aktivis dialog agama kerap melakukan formulasi ulang terhadap pandangan-pandangan normatif agamanya menyangkut hakikat kemanusiaan, martabat manusia, kesetaraan semua manusia, dan solidaritas sejati antara sesama umat manusia. Namun dalam pembahasan materi ini konteks musyawarah (dialog) hanya kepada permasalahan yang menyangkut internal agama, tidak sampai pada tataran antar umat beragama. Kita melihat bahwa hampir semua ketegangan yang muncul bermula dari kepentingan agama sendiri yang dicoba untuk diperjuangkan, tanpa memperdulikan kepentingan agama lain, titik perbenturannya lebih banyak pada kepentingan dakwah atau misi.
Ayat lain yang berkaitan dengan nilai multikulturalis yaitu Surah Al-Isrâ’, 17: 26-27, yang temanya tentang anjuran Membantu Kaum Duafa. Namun sangat disayangkan penjelasan lebih rinci tentang ayat ini tidak begitu jelas apa lagi dikaitkan dengan pendidikan multikultural. Padahal sangat tegas dalam Al-Qur’an Allah mengecam orang yang tidak menyantuni kelompok kaum dhu’afa atau mustadh’afin dengan sebutan orang yang mendustakan agama. Pembahasan pada Aspek Al-Qur’an yang sangat dekat dalam konsep multiklulturalisme ada pada ayat Al-Qur’an; Pertama, Al-Qur’an Surah Al_Kafirun, 109: 1-6 tentang Tidak ada Toleransi dalam Hal Keimanan dan Peribadahan. Bila dilihat dari penegasan ayat ini bahwa dalam menyikapi perbedaan keimanan dan peribadahan, umat Islam dan kaum kafir hendaknya bebas beragama dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya, dan tidak boleh saling mengganggu, Islam melarang memaksa orang lain untuk menganut suatu agama.
Walaupun dalam konteks ayat di atas sangat tegas dalam masalah agama dan peribadatan, namun pandangan mengenai titik temu agama-agama, konsep Islam memberi pengakuan tertentu kepada para penganut agama di luar Islam yang memiliki kitab suci, sikap ini tidaklah bermaksud memandang semua agama sama, karena sesuatu hal yang mustahil mengingat agama-agama yang ada berbeda-beda dalam banyak hal yang prinsipil. Akan tetapi, sikap Islam ini memberi pengakuan sebatas hak masing-masing untuk bereksistensi dengan kebebasan menjalankan agama mereka masing-masing.
Berdasarkan fakta sejarah banyak ahli tentang Islam seperti Bernard Lewis menyatakan bahwa kebebasan beragama dan toleransi antar penganut agama-agama terjamin dalam masyarakat yang berpenduduk mayoritas Islam. Diantara penyebab sikap toleransi ini, disamping pandangan Al-Qur’an sendiri yang inklusif, adalah karena konsep Ahli Kitab dihayati benar oleh umat Islam
B. Aspek Akidah
Khususnya pemikiran tentang tauhid dalam konteks pendidikan di Indonesia masih sangat terbatas, dikalangan masyarakat muslim Indonesia terkesan masih kuatnya faham teologis yang cenderung bersifat fatalistik (Jabariyah). Paham ini lebih menekankan kekuasan mutlak Tuhan, sementara mengabaikan kemampuan dan ikhtiar manusia. Berangkat dari kesadaran inilah, selain diperlukan pemahaman yang benar tentang tauhid dan bertauhid, juga mendesak dikembangkannya pemikiran alternatif dibidang teologi yang tidak terjebak pada pengkotakan mazhab seperti Asy’ariyah, Jabariyah, Qadariyah, Mu’tazilah, Maturidiyah, atau Syi’ah. Beberapa penjabaran tentang teologi dalam buku teks PAI di SMA, seperti dalam pembahasan materi tentang iman kepada Allah. Materi yang diusung adalah sifat-sifat Allah Swt dalam Asmaul Husna, diantara sifat Allah yang dibahas dan berkaitan dengan nilai multikultural yaitu; Al-Hakim (Maha Bijaksana).
Dalam Aspek Akidah, yakni tentang Iman kepada Qada dan Qadar. Dalam memberikan defenisi tentang Qada dan Qadar yang hanya menampilkan satu tokoh yaitu Ulama Asy’ariyah yang dipelopori oleh Abu Hasan Al-Asy’âri (wafat di Basrah tahun 330 H). Penjelasan tentang Qada dan Qadar dalam teks ini hanya mewakili salah satu aliran teologi dalam Islam. Padahal ada tafsir lain tentang makna Qada dan Qadar dalam aliran kalam seperti Mu’tazilah. Pada titik ini sesungguhnya buku teks PAI di SMA masih terkesan bias karena hanya menampilkan pendapat salah satu dari aliran kalam tanpa memberikan perbandingan. Dengan demikian dapat dikatakan buku teks tersebut belum mengapresiasi konsep multikultural dalam konteks bangsa Indonesia yang berpenduduk plural. Perbedaan pada tingkat pemahaman tidak bervariasi, sehingga masyarakat bisa membedakan secara lebih rinci tentang pemahaman tersebut. Lebih jauh lagi materi yang ada dalam buku teks ini sedikit menonjolkan doktrin Asy’ariah ketimbang yang lain. Padahal untuk Indonesia walaupun kebanyakan menganut teologi ini, tetapi pada realitasnya ada sebagian umat Islam Indonesia yang menganut teologi lain selain dari Asy’ariah, misalnya Mu’tazilah atau Syi’ah. Menurut Azyumardi Azra, walaupun tidak ada bukti yang kuat tentang adanya pengaruh paham teologi Syi’ah, tapi sejak keberhasilan Revolusi Islam Iran pimpinan Ayatullah Khomeini, ajaran dan teologi Syi’ah mulai menanamkan pengaruhnya di kalangan tertentu kaum Muslim Indonesia.
Pada tataran ini buku teks cenderung eksklusif , bahkan tidak multikultural dengan hanya menampilkan satu sisi pandangan teologis saja yang memang paham Asy’ariah begitu mengkristal dalam pandangan masyarakat Indonesia (khususnya pada masyarakat awam/tradisional). Dalam doktrin yang sering ditemui dalam masyarakat paham Mu’tazilah dianggap paham yang tidak sesuai dengan konteks Islam yang sebenarnya.
C. Aspek Akhlak
Pembahasan tentang Husnuzhan sebenarnya bila dikaitkan dengan pendidikan multikultural, bagaimana suatu penganut agama perlu ditegaskan bahwa salah satu penyebab tidak harmonisnya hubungan antar individu atau antara kelompok masyarakat yang satu dengan yang lainnya di dalam negara yang multikultural adalah adanya sikap prejudis dan stereotip diantara mereka. Prejudis biasanya cenderung melakukan generalisasi dalam melihat dan menilai seseorang atau kelompok lainnya tanpa mempedulikan kenyataan bahwa setiap individu mempunyai ciri-ciri dan karakter yang berbeda-beda. Di dalam masyarakat multikultur, stereotip dan prejudis dapat dengan mudah tumbuh, keadaan ini bukan tidak mungkin dapat menyebabkan timbulnya diskriminasi dan pertentangan terhadap individu atau kelompok yang satu dengan yang lain. Dalam materi mengenai Husnuzhan ini penjelasannya tidak begitu spesifik menyinggung tema multikulturalisme padahal tema ini menurut penulis bila dijabarkan sedemikian akan terasa lebih bermakna bagi peserta didik sebagai bekal mereka di masa akan datang dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat.
Sub bab tentang perilaku tercela juga membahas tentang diskriminasi, yang merujuk kepada pelayanan/perlakuan yang tidak adil terhadap individu tertentu, dimana pelayanan/perlakuan ini dibuat berdasarkan kumpulan yang diwakili oleh individu yang lebih dominan. Diskriminasi menjadi satu hal yang biasa dijumpai dalam masyarakat. Diskriminasi bertumpu pada kecenderungan seseorang untuk membeda-bedakan orang lain.
Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa diskriminasi merupakan perlakuan terhadap orang atau kelompok yang didasarkan pada golongan atau kategori tertentu. Inti dari diskriminasi adalah perlakuan yang tidak adil yang ditujukan terhadap kumpulan manusia tertentu. aspek Akhlak, hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai multikultural adalah pokok bahasan mengenai keadilan (Adil), dalam tema ini seperti apa pengertian adil, dan sebagainya. Namun tema ini terasa dangkal sekali dari permasalahan multikultural, sebab penjabarannya hanya sebatas membuat depenisi adil yang tidak dibarengi dengan penjelasan yang begitu mendalam.

D. Aspek Fiqih
Secara keseluruhan pembahasan dalam materi Fiqih belum mencakup mengenai nilai multikultural, namun tidak menutup kemungkinan menurut analisa penulis ada beberapa sub bab yang materinya terintegrasi dengan nilai tersebut diantaranya dalam materi PAI kelas X (sepuluh), pokok bahasan tentang Sumber Hukum Islam, dengan pembahasan tentang “Ijtihad”. Ijtihad diperlukan karena permasalahan umat terus berkembang dari waktu ke waktu, karena kehidupan manusia selalu berubah seiring perkembangan zaman. Ijtihad merupakan salah satu sistem berpikir ilmiah Islam, dengan memberikan kemerdekaan berpikir tetapi tidak terlepas dari ikatan disiplin yang diatur Al-Qur’an dan hadis sebagai dasar asasinya. Ijtihad sebagai penopang kebudayaan dalam Islam, bukan agama atau ibadah, kebudayaan bersifat pembaharuan sedangkan agama atau ibadah selamanya adalah tetap. Dengan ijtihad pandangan manusia terhadap dunia, kebudayaan, dan cara hidup selalu akan terbaharui.
Seperti penjelasan tentang ijtihad di atas tadi, sebenarnya dalam aspek Fiqih banyak sekali hal-hal yang sangat berkaitan erat dengan nilai-nilai multikultural yang seharusnya dipelajari oleh siswa di kelas, namun sangat disayangkan dalam hal ini buku teks Pendidikan Agama Islam belum mengakomodasi hal tersebut secara rinci dengan menampilkan beberapa kajian tentang perdebatan dalam hukum Islam yang akan membantu siswa keluar dari rasa penasaran dan kebingungan mereka akan kedudukan suatu masalah tertentu dalam hukum Islam. Aspek Fiqih dalam buku teks PAI kelas X ini hanya menampilkan sekilas tentang biografi Empat Imam Mazhab pada kolom “Info Agama”, seperti; Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i, dan Mazhab Hambali. Aspek Fiqh, pembahasan tentang zakat, haji dan wakaf, materi ini juga terlihat sebuah doktrin yang secara tidak langsung menggambarkan pendapat Imam Syafi’i tentang waktu pengeluaran zakat fitrah, disini Imam Syafi’i berpendapat bahwa boleh dilakukan (dikeluarkan) zakat fitrah sejak awal Ramadhan dan tidak boleh menangguhkan pengeluarannya sampai salat Idul Fitri.
Pembahasan materi di atas kebanyakan dalam buku teks dengan mengambil pendapat imam Syafi’i, hanya sebagian kecil ada pendapat lain seperti imam Abu Hanifah, Imam Hambali. Pendapat Syafi’i masih mendominasi buku teks, sehingga ada bias dalam materi yang dipelajari. pembahasannya tentang Munakahat, dengan bahasan meliputi ketentuan hukum Islam tentang pernikahan, disini dijelaskan bagaimana pengertian, hukum, dan tujuan pernikahan. Dari analisa penulis pembahasan materi Munakahat sama sekali tidak menyinggung permasalahan yang sedang banyak diperbincangkan, seperti nikah beda agama. Walau sub pokok bahasan ada materi tentang perkawinan menurut Undang-undang di Indonesia, tapi tidak menyebutkan hal tersebut. pernikahan beda agama yang kita ketahui selama ini diharamkan, ini berdasarkan fatwa MUI pada tanggal 1 juni 1980. Larangan pernikahan beda agama di Indonesia diformulasikan dalam Inpres No. 1 tahun 1991 tentang Konpilasi Hukum Islam (KHI) yang berisi hukum perkawinan, kewarisan, dan perwakafan. Pasal 44 KHI dinyatakan “Seseorang wanita muslim dilarang melangsungkan pernikahan dengan pria yang tidak beragama Islam. Berdasarkan fatwa MUI, Konpilasi Hukum Indonesia (KHI), serta konteks larangan yang terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 221, maka dalam buku teks PAI di SMA tidak disinggung sama sekali tentang pernikahan beda agama ini. Sistem pemikiran fiqih yang sejak awal tidak memberikan ventilasi pemikiran bagi non-Muslim. Hal ini bila dikaitkan dengan agama lain maka kesimpulan hukum yang diambil cenderung kaku dan keras.
E. Aspek Tarik dan Kebudayaan Islam
Pada aspek Sejarah materi yang disajikan dalam buku teks PAI SMA kelas X semester pertama, tema yang dipelajari adalah tentang Sejarah Dakwah Rasulullah Saw Periode Mekah. Disini penjabaran materinya mengkaji seputar sejarah kelahiran Nabi sampai beliau berusia 25 tahun dan menikah dengan Khadijah. Ada beberapa hal yang dapat dipelajari dan berhubungan dengan dakwah nabi, yaitu beliau mengajarkan tentang persamaan hak, manusia di muka bumi ini mempunyai hak yang sama. Tidak ada golongan yang lebih tinggi maupun lebih rendah, keutamaan manusia bukan didasari atas perbedaan bangsa, golongan ataupun warna kulit, akan tetapi didasari atas kualitas ketakwaannya. Selanjutnya Nabi juga dalam menyampaikan dakwahnya dengan cara-cara yang bijaksana, seperti menyampaikan seruan dengan menggunakan kalimat yang baik dan tidak menyakiti hati orang lain, dengan cara yang santun dan tidak arogan, beliau tidak memaksa seseorang untuk memeluk Islam, tidak juga dengan membujuk rayu atau tipu muslihat.
Aspek Tarikh (sejarah) dalam pelajaran PAI kelas X semester dua, materinya tentang Sejarah Dakwah Rasulullah periode Madinah. Hal yang paling penting dalam sejarah dakwah Nabi di Madinah adalah perjanjian damai dengan kaum Yahudi yang berdiam di dalam maupun di sekeliling kota Madinah, perjanjian ini terkenal dengan sebutan Piagam Madinah, perjanjian ini menunjukkan bahwa Islam telah lebih dahulu dalam penerapan pendidikan multikultural, Nabi telah meletakkan pondasi atas umat Islam untuk hidup berdampingan secara damai. Perjanjian yang dibuat oleh Rasulullah ini menjadi peristiwa baru dalam dunia politik dan peradaban yang waktu itu masih banyak terjadi perampasan hak asasi manusia di berbagai pelosok bumi. Aspek Tarihk pada kelas XII (duabelas) semester pertama, materi yang dipelajari adalah tentang perkembangan Islam di Indonesia. Sub bahasan masuknya Islam di Indonesia, cara penyebaran Islam pun hampir sama dengan metode dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah yakni tidak dengan paksaan dan kekerasan (peperangan), tapi dengan cara bijaksana (bil-hikmah), dan dengan pengajaran yang baik (mau’iztul hasanah), serta memberikan contoh yang baik dan betul-betul Islami. Ajaran Islam tentang persamaan dan tidak adanya sistem kasta dan diskriminasi mudah untuk menarik simpati rakyat, terutama dari lapisan bawah.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa buku-buku teks yang dipelajari di sekolah, khususnya di Sekolah Menengah Atas (SMA) memunculkan perspektif yang belum mencakup keragaman yang ada di Indonesia. Secara sosiologis, kecendrungan ini dapat dilihat dari beberapa indikator;
Pertama, pendekatan kurikulumnya yang masih setengah-setengah berbicara tentang kebebasan beragama dan lain sebagainya, dengan indikator bahwa agama masih sering menjadi ajang pendiskriminasian baik pada tataran pemerintah pusat maupun daerah, dengan asumsi bahwa materi yang ada dalam buku teks Pendidikan Agama Islam (PAI) secara umum masih sedikit yang membicarakan tentang pokok bahasan bagaimana menghargai budaya-budaya yang berbeda dalam masyarakat yang plural serta sebaran (gambaran) isu-isu multikulturalisme masih sangat minim sekali.
Kedua, buku teks masih merupakan simbol dan pelengkap dari sarana belajar siswa, bukan pada tataran makna sebenarnya yang memberi pendidikan yang mencerdaskan, menyenangkan, serta memberikan kebebasan siswa dalam mengelaborasi pikirannya, justru buku teks lebih banyak materi yang menyajikan ritual-ritual ajaran agama yang begitu sarat dengan doktrin serta dogma agama. Padahal Nabi Muhammad Saw telah meletakkan dasar konsep “kebebasan” ini dalam perjanjian yang disebut Piagam Madinah yang menjamin kebebasan beragama dan menjalankan ajarannya. Dalam peradaban Islam klasik pun konsep ini sudah begitu mapan diaplikasikan. Konsep pendidikan multikultural pada masa Islam klasik terutama masa khalifah al-Ma’mûn ini tidak jauh berbeda bahkan mungkin melebihi dengan apa yang telah dikonsepkan oleh para ahli dari dunia Barat yang menekankan pada konsep keadilan, kesetaraan, dan pluralitas. Jadi gaung pendidikan multikultural itu sudah dipraktekkan dalam dunia pendidikan Islam dengan Bayt al-Hikmah sebagai contohnya.
Ketiga, bahwa buku ajar baru sebatas memberikan apresiasi kepada peserta didik, hal ini terlihat dengan bentuk penyajian materi yang membuat anak didik bebas dalam mengemukakan pendapat minim sekali dalam penyajian materinya misalnya dalam bentuk diskusi, bahkan masih ada buku ajar yang tidak memuat penyajian dalam bentuk diskusi ini.
Buku ajar PAI masih sarat dengan doktrin dari pendapat (mazhab) tertentu dengan hanya membahas kajian tentang pendapat ulama yang dianggap mewakili paham kaum mayoritas tertentu di Indonesia, padahal Indonesia adalah negara yang majemuk dan sudah tentu hal ini dalam konsep pendidikan multikultural adalah bentuk doktrinasi bahkan diskriminasi terhadap kaum minoritas. Selanjutnya materi PAI baru terintegrasi secara eksplisit dalam konsep pendidikan multikultural, ini terlihat dari berbagai pembahasannya yang tidak begitu jelas dan terkadang parsial. Sehingga buku teks masih kelihatan eksklusif apalagi berkaitan dengan teologi (masalah kepercayaan). Secara keseluruhan buku teks belum mengarahkan siswa untuk berpola pikir inklusif, sebab buku teks hanya menyampaikan materi Pendidikan agama (Khususnya Islam) hanya pada tataran normatif dan sedikit sekali yang menyangkut makna.
B. Saran.
Beberapa catatan penting bagi dunia pendidikan kita (terutama Islam) dalam menghadapi kenyataan pahit adanya pandangan-pandangan “miring” dan “sinis” tersebut; pertama, pandangan tidak sehat tersebut tidak harus ditangkap sebagai “dakwaan”, melainkan sebuah tantangan yang harus dibuktikan. Kedua, sebagai bahan intropeksi model pengajaran, barangkali ada yang kurang tepat sehingga perlu direnovasi. Ketiga, mengembangkan alur-alur pemikiran yang lebih substansial, inklusif, kontekstual dan konstruktif; yang kemudian teraplikasi dalam penyampaian materi ajar kepada para peserta didik. Keempat, menghindari bahasa-bahasa yang sifatnya diskriminatif-destruktif, karena inilah yang selama ini disorot akibat inflikasinya yang dipandang negatif bagi dunia pendidikan. Kelima, dunia pendidikan bersifat dinamis, sehingga diharapkan dapat lebih mendorong peningkatan mutu serta kerjasama antar-kelompok, baik antara siswa, guru maupun antara lembaga pendidikan yang berbeda ciri khas kultur, ideologi maupun teologisnya; dengan harapan dapat meminimalisir sikap saling curiga dan menumbuhkan positif thinking.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Direktorat Pembinaan Peradilan Agama Depag RI, Kompilasi Hukum Islam, Jakarta: t.p,
_______, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta: Balai Pustaka, 1999, Cet-10,
_______, Peraturan Pemerintah R.I No.19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, Jakarta: Penerbit Eko Jaya, 2005,
_______, Standar Isi dan Standar Kelulusan Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah Atas (SMA), Jakarta: Direktorat Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Departemen Agama RI, 2008
_______, Undang-undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI, 2006,
_______, Undang-undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Penerbit CV. Eko Jaya, 2003,
Irfan, Mohammad, dan Mastuki HS, Teologi Pendidikan, Tauhid Sebagai Paradigma Pendidikan Islam, Jakarta: Friska Agung Insani, 2000,
Banks, James A., (ed.). Multicultural Education: Issues and Perspectives. Boston-London: Allyn and Bacon Press, 1989,
Multicultural Educational: Historical Development, Dimentions,and Practice, (Washington DC: American Educational Research Association, 1994) Vol.9.
Azra, Azyumardi, Indonesia, Islam and Democracy: Dynamic in Global Context, Jakarta & Singapore: ICIP, TAF, and Equinoc-Solstice.2006.
________, Paradigma Baru Pendidikan Nasioanal Rekonstruksi dan Demokratisasi, (Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2006) cet ke-2.
________, Konteks Berteologi di Indonesia Pengalaman Islam, Jakarta: Paramadina, 1999,
________, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002, Cet.IV,
Mu’ti, Abdul, Pluralisme Keagamaan dalam Pendidikan Muhammadiyah; Studi Kasus di Ende, Serui, dan Puttusibbau, Disertasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: 2008,
Mubarak, Muhammad, Nidhâm al-Islâm: al-Hukm wa al-Dawlah, Dar al-Fikr, Beirut, Libenon, 1989,
Muhaimin dkk, Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pada Sekolah & madrasah, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008,
________, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam, Pemberdayaan, Pengembangan Kurikulum hingga Islamisasi Redefinisi Islamisasi Pengetahuan, Bandung: Yayasan Nuansa Cendikia, 2003
________, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta: Rajawali Pers, 2009,
Mulyasa, E., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Sebuah Panduan Praktis, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007,
Naim, Ngainun & Ahmad Sauqi , Pendidikan Multikultural: Konsep dan Aplikasi, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2008.
Nasution, Harun, Islam di Tinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid 1, Jakarta: UI Press, 1985, Cet-5,
________, Islam Rasional, Gagasan dan Pikiran, Bandung: Mizan, 1996
________, Teologi Islam, Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI Press, 1986, Cet-5
Nata, Abuddin, (ed), Problematika Politik Islam di Indonesia, Jakarta: UIN Jakarta Press dan Grasindo, 2002,
________, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2003
Nor Wan, Won Mohd, Filsafat dan Pendidikan Islam Sayyed M. Naquib Al-Attas, Bandung: Mizan, 2003
Tilaar, H. A. R, Multikulturalisme; Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Pendidikan Nasional, Jakarta: Grassindo, 2002.
_______, Kekuasaan dan Pendidikan, Suatu Tinjauan dari Perspektif Studi Kultural, Magelang: IndonsiaTera, 2003,
Ubaidillah, M. Luthfi dkk, Pendidikan Agama Islam Untuk SMA Kelas XII, Depok: Penerbit Arya Duta, 2007
Wahid, Abdurrahman, Bunga Rampai Pesantren, (t.tp.: CV Dharma Bhakti, t.t),
Wahid, Marzuki, dkk, Pesantren Masa Depan Wacana Pemberdayaan dan Transpormasi Pesantren, Bandung: Pustaka Hidayah, 1999,
ya’cub, Achmad, At-Tarbiyah wa Azmatu al-Tanmiyyah al-Basyariyyah. (Riyadh: Maktabul Tarbiyyah al-Araby li-Daulah lil-Khalij, 2002),
Yaqin, M. Ainul Pendidikan Multikultural Cross-Cultural Understending Untuk Demokrasi dan Keadilan, (Yogyakarta: Pilar Media, 2007), Cet.ke-2

Yasmadi, Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional, Jakarta: Ciputat Press, 2002, cet.I,
Yatim, Badri, Sejarah Paradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001, Cet.12,
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Hidakarya Agung, 1992,
Zaeni, A.Wahid, Dunia Pemikiran Kaum Santri, (ed). M. Masykur Amin dan M. Malik Ridwan, Yogyakarta: LKPSM NU DIY, 1995,
Zarkasyi, Abdullah Syukri, Gontor dan Pembaharuan Pendidikan Pesantren, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005

CRITICAL REVIEW

Multikulturalisme dalam Buku Teks Pendidikan Agama Islam

Diajukan untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Metodologi Studi Islam yang diampu
oleh: Pradi Khusufi Syamsu, MA.

Disusun oleh: Nur Khayati

Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Darul Qalam
Cibinong
2011/2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s