CERPEN : Kita Butuh Orang Gila

Sesosok tubuh terjungkal, disusul helm dan senjata yang berterbangan. Belum lagi itu usai mendarat, seseorang yang membopong temannya tiba- tiba terjatuh dan tak bangun lagi. Suara teriakan dan jeritan seakan menjadi nyanyian yang terdengar samar karena desingan peluru bak suara angin yang menabrak dedaunan. Begitulah suasana medan pertempuran di Negeri Daratan. Begitu gaduhnya sehingga jikalau ada halilintar menyambar, tidak seorang pun yang akan peduli dan melihat ke langit. Ratusan mayat berserakan. Jika ada pihak yang mengklaim salah satu mayat tersebut adalah anggotanya, maka mayat tersebut akan diambil dan dikuburkan dengan layak. Namun jika tidak ada yang mengklaim, mayat yang tak dikenali itu akan dibiarkan tergeletak hingga terkena granat dan hancur menjadi serpihan kecil yang akan hilang terinjak-injak.Di tengah mayat yang berserakan berdiri seorang prajurit dari pihak Negeri Merah. Ia sendirian karena seluruh pasukannya sudah gugur dalam pertempuran. Sebagai satu-satunya yang selamat, ia tidak punya pilihan selain menyerah pada musuh. Tetapi hatinya berkata lain. “Aku tidak boleh menyerah. Aku lebih baik mati tertembak atau terkena granat,” serunya. “Tapi aku juga tidak ingin mati. aku masih muda. Masih punya keluarga,” katanya dalam hati Tiba-tiba keinginannya untuk tidak menyerah atau pun mati terkabulkan. Seseorang berjalan dengan santainya di tengah medan pertempuran sambil tersenyum sekilas. Prajurit itu meneriakinya. “Hei! Menjauh dari medan perang ! Tempat ini bukan untuk warga sipil.” Tapi teriakan si prajurit hanya dibalas seringaian tipis dari orang tersebut. “Apa kau ingin mati? Pergi dari sini!” Teriak si prajurit lagi. Hal yang sama pun terjadi. Orang tersebut hanya membalasnya dengan senyuman yang sulit diartikan.Seketika itu juga si prajurit langsung mengambil kesimpulan. “Ah, orang ini tidak waras.” Ia langsung memberikan senjata dan helmnya kepada orang gila tersebut berharap agar ia bisa kabur dan si orang gila itu yang tertangkap. Tanpa berpikir dua kali si prajurit langsung menyodorkan senjata miliknya yang langsung dipeluk erat oleh si orang gila tadi. Tidak lupa ia memakaikan helm perang serta tanda bahwa ia berpihak pada Negeri merah berupa sebuah lencana merah dan menjabat tangan orang gila tadi. “Selamat, Tuan. Kau baru saja diterima sebagai tentara dan langsung bertugas,” teriak si prajurit dengan girangnya. Si prajurit langsung melompat ke balik semak belukar dan mengamati apa yang akan terjadi. Ia menyaksikan tentara musuh mulai mendekati si orang gila yang kini sudah menjadi tentara.Namun apa yang ia saksikan sangat bertolak belakang dengan apa yang ia harapkan. Orang gila tadi bukannya menyerah atau mati tertembak, tapi ia malah melawan tanpa rasa takut. Setiap ia membunuh satu prajurit musuh, ia mengeluarkan senyum mengerikannya itu. Sebuah senyum khas orang yang tidak waras. Si prajurit tercekat melihatnya. Selama sejam ia mengawasi si orang gila itu. Dan selama itu pulalah si orang gila membantai prajurit musuh tanpa rasa takut. Ratusan kali sudah senyum mengerikannya keluar. Hal terakhir yang dilakukan orang gila ini sungguh diluar batas kewajaran. Ia membakar sebuah mobil penuh bahan bakar. Ketika api mulai menyala, si orang gila tidak juga menyingkir. Si prajurit yang mengawasi dari balik semak belukar tersadar orang gila ini harus disingkirkan dari sana, kalau tidak ia akan habis terpanggang api yang tak lama lagi akan menjadi sangat besar. Tanpa pikir panjang lagi si prajurit langsung berlari dan menarik si orang gila pergi dari area ledakan. Tepat sesaat setelah mereka berada di tempat yang aman, api yang tadi hanya sebesar api unggun seketika berubah menjadi seperti kebakaran beberapa rumah sekaligus. Sangat besar.Setelah yakin tidak satu pun yang masih hidup di medan pertempuran itu, mereka berdua beranjak untuk pulang ke markas tentara negeri merah. Sebelum pulang tidak lupa si prajurit mengambil sebuah lencana merah dari mayat temannya agar ia dapat dikenali. Mereka berdiri di pinggir sebuah jalan dan menghentikan sebuah truk yang dikemudikan warga sipil. Prajurit dan orang gila itu menumpang pulang ke negeri mereka, Negeri Merah.Sesampainya di Negeri Merah, si prajurit bersama orang gila menghadap ke Panglima Militer di sana. “Kudengar seluruh tentara musuh dibantai tanpa ampun. Dan kau satu-satunya yang selamat yang bisa menceritakan kejadiannya. Tolong ceritakan,” kata si panglima. Si prajurit menceritakan semua yang terjadisecara lengkap dan terperinci.Usai si prajurit bercerita, si panglima berkata dengan penuh wibawa. “ Kau tahu. Seharusnya aku menghukummu karena lari dari tanggung jawab sebagai seorang prajurit. Tapi berhubung hal yang kau lakukan membawa dampak yang sangat baik, kau kumaafkan. Sekarang, silakan kembali dan tinggalkan orang gila itu di sini untk kami urus.”“Terima kasih, Pak,” kata si prajurit dan langsung meninggalkna ruangan panglima. Si prajurit pun pergi menuju ruangannya untuk membersihkan diri dan merawat luka-lukanya.Keesokan harinya diselenggarakan rapat bagi para petinggi militer. Rapat itu berlangsung di aula gedung militer dan dipimpin oleh Panglima Militer. “Ternyata yang kita butuhkan bukanlah prajurit yang kuat, bukan prajurit yang pintar dan bukan prajurit yang penuh kesetiaan. Tetapi, yang kita butuhkan adalah prajurit tanpa rasa takut.” Begitulah si panglima membuka rapatnya.“Setahuku, rasa takut hanya ditemukan pada orang waras. Karena itu prajurit kita haruslah prajurit yang tidak waras agar mereka tidak takut. Setuju?” Si panglima melanjutkan. Seluruh anggota rapat setuju dengan usul si panglima.Beberapa minggu kemudian dibukalah pendaftaran prajurit militer. Kalau biasanya calon tentara tidak boleh pecandu narkoba, tidak boleh berkelakuan buruk, atau tidak boleh memiliki tatto, maka kali ini persyaratannya cukup mudah yaitu calon prajurit tidak boleh waras. Brosur pendaftaran ini tersebar ke seluruh pelosok Negeri Merah. Setiap orang yang membacanya pasti tertawa terbahak-bahak. Sejak saat itu mulailah orang tua yang anaknya gila berdatangan ke Markas Militer Negeri Merah. Rata-rata orang yang datang ke sana berharap sanak keluarga mereka yang gila akan menjadi waras setelah didaftarkan di sana. Sebagian kecil juga berharap sanak keluarganya yang gila akan mati di pertempuran sehingga tidak menyusahkan.Pelatihan militer pun dimulai. Orang-orang gila ini mengikutinya dengan beragam sikap. Ada yang antusias, mereka yang antusias biasanya gila karena tidak kesampaian masuk Akademi Militer. Tetapi mereka yang gila karena percintaan entah itu ditinggal pacar atau menyaksikan pacarnya menyeleweng dengan orang lain, biasanya akan berlatih dengan penuh emosi dan terkadang ada pula yang berlatih sambil marah dan menangis. Pelatih mereka yang tentunya tentara waras, akan digilir setiap harinya. Karena jika yang melatih adalah orang yang sama setiap hari, si pelatih ini bisa ikut-ikutan gila. Dan tugas melatih orang-orang gila ini menjadi momok yang menakutkan bagi setiap tentara,. Bagi mereka, tugas ini bahkan lebih buruk daripada menjadi tukang cuci piring.Setelah berbulan – bulan pelatihan yang menyebalkan baik bagi yang dilatih maupun yang melatih, sebuah pengumuman perang dikeluarkan oleh presiden Negeri Merah. Beliau berbicara baik di televisi maupun di radio. “Wahai rakyatku yang waras-waras. Aku berkata begitu karena aku tahu yang gila sudah menjadi tentara dan akan bertempur membela kita semua. Perang antara kita dan negara tetangga sepertinya akan terjadi lagi. Kali ini pertempuran akan berlangsung lebih dahsyat karena tentara di pihak kita bukanlah tentara waras. Karena itu jagalah sanak keluarga sebisa mungkin agar tak terluka akibat perang. Terima kasih.”Panglima Militer dengan senyum penuh di wajah, berdiri tegap di sebuah mimbar. Beliau hanya mengangkat sehelai kain merah tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Beliau melakukan ini karena ia tahu orang gila tidak akan mengerti apa yang akan diucapkannya tetapi beliau berharap orang – orang yang kurang waras ini mengerti bahwa warna merah adalah warna bangsanya sehingga tidak akan menembak kawan sendiri.Setelah turun mimbar, beliau berjabat tangan dengan para petinggi militer yang lain. Mereka semua terlihat sangat sumringah. Si panglima kemudian berjalan menuju ruangannya sambil berkata dalam hati. “Kalau satu prajurit gila bisa membunuh satu batalyon musuh, apalagi yang bisa dilakukan oleh dua ratus prajurit gila?” Senyum kemenangan tersirat di bibirnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s