pantun

teritip di tepi kota

mari dikayuh sampan pengail

imam ketip lagi berdosa

bertambah pula kita yang jahil.

( perintis sastra, 1951 )

tanam melati di rama – rama

ubur – ubur sampingan dua

biarlah mati kita bersama

satu kubur kita berdua.

( Roro Mendut, 1968 )

pulau pandan jauh di tengah

di balik pulau angsa dua

hancur badan di kandung tanah

budi baik terkenang jua.

( perintis sastra, 1951 )

lalu berjalan ken tambunan

di iringkah penglipur dengan tadahan

lemah lembut berjalan perlahan – lahan

lakunya manis memberi kasihan

tunduk menangis segala puteri

masing – masing berkata sama sendiri

jahatnya perangai permaisuri

lakunya seperti jin dan peri

( perintis sastra, 1951 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s