Sitor Sitomurang

Sitor Sitomurang

LAGU GADIS ITALI

Kerling danau di pagi hari

Lonceng gereja bukit itali

Jika musim tiba nanti

Jemput abang di Teluk Napoli

Kerling danau di pagi hari

Lonceng gereja bukit itali

Sedari abang lalu pergi

Adik rindu setiap hari.

Kerling danau di pagi hari

Lonceng gereja bukit itali

Andai abang tak tembali

Adik menunggu sampai mati.

Batu tandus di kebun anggur

Pasir teduh di bawah nyiur

Abang lenyap hatiku hancur

Mengejar bayang di salju gugur.

Hanya anjing,

Malam hari meraung menyalak bulan

Yang melengkung sunyi,

Suaranya melanda

Turun ke pantai.

Jika seala

Senyap pula,

Berkata pemukat tua,

“Anjing meratapi orang mati !”

Elang laut telah

Hilang ke lunas kelam

Topan tiada bertanya

Hendak kemana dia

Dan makhluk kecil

Yang membangkai di bawah

Pohon eru,tiada pula akan

Berkata,

“Ibu kami tiada pulang.”

( kelana, 1994 )

Waluyati

Berpisah

Bersama – sama bunga di gubah

Menjadi rangkaian halus pewangi

Dan pulang kita bersuka hati

Di kala surya terbenam merah.

Di jalan Simpang kita berpisah

Gubahan bunga gemetar di tangan

Dan sambil kita berpandangan

Jatuh rangkaian, dua terbelah.

Kuambil seutas, setengah lagi

Kau pegang erat, dan kau melompat

Di kala kujalan sendiri

Hanyalah bunga, kau bawa lari

Mengirimkan wanginya ke arahku lagi.

( Tonggak 1, 1987 )

SIAPA?

Tersebar engkau, kaum sengsara

Duduk meratap di seluruh kota

Dan swara tangismu membumbung, memilukan hati

Berbilang kali terdapat badan

‘lah bangkar terdampar di tepi jalan

Dan lekaslah mayatmu diusung orang pergi.

Penaka mentari, bersinar atas pohon berdaun lebat

Menyebabkan tanah di bawah bertelau – telau

Sebagian tetap gelap

Sebagian pula tetap terang di sinar kuat

Bertanaman subur, penuh berbunga

Sedangkan di gelap tangkai menjulang

Mendambakan cahaya

Demikian engkau, kaum penderita

Melihat sesamami di sinar bahagia,

Sedang badan sendiri kelam dingindi dekapan sengsara

Ah, siapa,

Siapa akan memanjat pohon,

Memotong dahan penuh berdaun,

Penghalang bahagia kebumi turun?

( tonggak 1, 1987 )

Rendra

SURAT CINTA

Kutulis surat ini

Kala hujan gerimis

Bagai bunyi tambur mainan

Anak – anak peri dunia yagn gaib.

Dan angin mendesah.

Wahai, dik Narti,

Acu cinta kepadamu !

Kutulis surat ini

Kla langit menangis

Dan dua ekor belibis

Bercintaan dalam kolam

Bagai dua anak nakal

Jenaka dan manis

Mengibaskan ekor

Serta menggetarkan bulu – bulunya

Wahai, dik Narti,

Kupinang kau menjadi istriku !

Kaki- kakihujan meruncing

Menyentuhkan ujungnya di bumi.

Kaki – kaki cinta yang tegas

Bagai loga berat gemerlapan

Menempuh ke muka

Dan tak’kan kunjung diundurkan.

Selusin malaikat

Telah turun

Di kala hujan gerimis.

Di muka kaca jendela

Mereka berkaca dan mencuci rambutnya

Untuk kepesta.

Wahai, dik Narti,

Dengan pakaian pengantin yang anggun

Bunga – bunga serta keris keramat

Aku ingin membimbingmu kealtar

Untuk dikawinkan.

Aku melamarmu.

Kau tahu dari, dulu;

Tiada lebih buruk

Dan tiada lebih baik

Dari yang lain ….

Penyair dari keidupan sehari –hari,

Orang yang bermula dari kata

Kata yang bermula dari kehidupan, pikir dan rasa.

Semangat kehidupan yang kuat

Bagai berjuta – juta jaru atlit

Menusuki kulit langit :

Kantong rejeki dan restu wingit.

Lalu tumpahlah gerimis.

Angin dan cnta

Mendesah dalam gerimis.

Semangat cintaku yang kuat

Bagai seibu tangan gaib

Menyebarkan seribu jaring

Menyergap hatimu

Yang selalu tersenyu padaku.

Engkau adalah puteri duyung

Tawananku .

Putri duyung dengan

Suara merdu lembut

Bagai angin laut,

Mendesahlah bagiku !

Angn mendesah

Selalu mendesah

Dengan ratapnya yang merdu.

Engkau adalah puteri duyung

Tergolek lemas

Mengerjap – ngerjapkan mata yang indah

Dalam jaringku.

Wahai, puteri duyung.

Aku menjaringmu

Aku melamarmu.

Kutulis surat ini

Kala hujan gerimis

Erna langit

Gadis manja dan manis

Menangis minta mainan.

Dua anak lelaki nakal

Bersenda gurau dalam selokan

Dan langit iri melihatnya.

Wahai, dik Narti,

Kuingin diaku

Menjadi ibu anak – anakku !

( Empat Kumpulan Sajak, 1961 )

Sitor Sitomurang

LAGU GADIS ITALI

Kerling danau di pagi hari

Lonceng gereja bukit itali

Jika musim tiba nanti

Jemput abang di Teluk Napoli

Kerling danau di pagi hari

Lonceng gereja bukit itali

Sedari abang lalu pergi

Adik rindu setiap hari.

Kerling danau di pagi hari

Lonceng gereja bukit itali

Andai abang tak tembali

Adik menunggu sampai mati.

Batu tandus di kebun anggur

Pasir teduh di bawah nyiur

Abang lenyap hatiku hancur

Mengejar bayang di salju gugur.

Hanya anjing,

Malam hari meraung menyalak bulan

Yang melengkung sunyi,

Suaranya melanda

Turun ke pantai.

Jika seala

Senyap pula,

Berkata pemukat tua,

“Anjing meratapi orang mati !”

Elang laut telah

Hilang ke lunas kelam

Topan tiada bertanya

Hendak kemana dia

Dan makhluk kecil

Yang membangkai di bawah

Pohon eru,tiada pula akan

Berkata,

“Ibu kami tiada pulang.”

( kelana, 1994 )

Waluyati

Berpisah

Bersama – sama bunga di gubah

Menjadi rangkaian halus pewangi

Dan pulang kita bersuka hati

Di kala surya terbenam merah.

Di jalan Simpang kita berpisah

Gubahan bunga gemetar di tangan

Dan sambil kita berpandangan

Jatuh rangkaian, dua terbelah.

Kuambil seutas, setengah lagi

Kau pegang erat, dan kau melompat

Di kala kujalan sendiri

Hanyalah bunga, kau bawa lari

Mengirimkan wanginya ke arahku lagi.

( Tonggak 1, 1987 )

SIAPA?

Tersebar engkau, kaum sengsara

Duduk meratap di seluruh kota

Dan swara tangismu membumbung, memilukan hati

Berbilang kali terdapat badan

‘lah bangkar terdampar di tepi jalan

Dan lekaslah mayatmu diusung orang pergi.

Penaka mentari, bersinar atas pohon berdaun lebat

Menyebabkan tanah di bawah bertelau – telau

Sebagian tetap gelap

Sebagian pula tetap terang di sinar kuat

Bertanaman subur, penuh berbunga

Sedangkan di gelap tangkai menjulang

Mendambakan cahaya

Demikian engkau, kaum penderita

Melihat sesamami di sinar bahagia,

Sedang badan sendiri kelam dingindi dekapan sengsara

Ah, siapa,

Siapa akan memanjat pohon,

Memotong dahan penuh berdaun,

Penghalang bahagia kebumi turun?

( tonggak 1, 1987 )

Rendra

SURAT CINTA

Kutulis surat ini

Kala hujan gerimis

Bagai bunyi tambur mainan

Anak – anak peri dunia yagn gaib.

Dan angin mendesah.

Wahai, dik Narti,

Acu cinta kepadamu !

Kutulis surat ini

Kla langit menangis

Dan dua ekor belibis

Bercintaan dalam kolam

Bagai dua anak nakal

Jenaka dan manis

Mengibaskan ekor

Serta menggetarkan bulu – bulunya

Wahai, dik Narti,

Kupinang kau menjadi istriku !

Kaki- kakihujan meruncing

Menyentuhkan ujungnya di bumi.

Kaki – kaki cinta yang tegas

Bagai loga berat gemerlapan

Menempuh ke muka

Dan tak’kan kunjung diundurkan.

Selusin malaikat

Telah turun

Di kala hujan gerimis.

Di muka kaca jendela

Mereka berkaca dan mencuci rambutnya

Untuk kepesta.

Wahai, dik Narti,

Dengan pakaian pengantin yang anggun

Bunga – bunga serta keris keramat

Aku ingin membimbingmu kealtar

Untuk dikawinkan.

Aku melamarmu.

Kau tahu dari, dulu;

Tiada lebih buruk

Dan tiada lebih baik

Dari yang lain ….

Penyair dari keidupan sehari –hari,

Orang yang bermula dari kata

Kata yang bermula dari kehidupan, pikir dan rasa.

Semangat kehidupan yang kuat

Bagai berjuta – juta jaru atlit

Menusuki kulit langit :

Kantong rejeki dan restu wingit.

Lalu tumpahlah gerimis.

Angin dan cnta

Mendesah dalam gerimis.

Semangat cintaku yang kuat

Bagai seibu tangan gaib

Menyebarkan seribu jaring

Menyergap hatimu

Yang selalu tersenyu padaku.

Engkau adalah puteri duyung

Tawananku .

Putri duyung dengan

Suara merdu lembut

Bagai angin laut,

Mendesahlah bagiku !

Angn mendesah

Selalu mendesah

Dengan ratapnya yang merdu.

Engkau adalah puteri duyung

Tergolek lemas

Mengerjap – ngerjapkan mata yang indah

Dalam jaringku.

Wahai, puteri duyung.

Aku menjaringmu

Aku melamarmu.

Kutulis surat ini

Kala hujan gerimis

Erna langit

Gadis manja dan manis

Menangis minta mainan.

Dua anak lelaki nakal

Bersenda gurau dalam selokan

Dan langit iri melihatnya.

Wahai, dik Narti,

Kuingin diaku

Menjadi ibu anak – anakku !

( Empat Kumpulan Sajak, 1961 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s